SEO jangan cuma bisa ranking, harus bisa bicara impact
Rekap obrolan Ridho Putradi S'Gara di podcast DailySEO ID. Alasan SEO masih jadi anak tiri di budget marketing, pertanyaan pembuka yang seharusnya diajukan ke klien, dan yang berubah untuk SEO junior sekarang AI mengambil alih pekerjaan eksekusi.

Selama orang SEO tidak bisa menunjukkan kontribusi pekerjaannya terhadap tujuan bisnis, SEO akan terus diperlakukan sebagai anak tiri di budget marketing. Itu inti obrolan Ridho Putradi S'Gara, Founder dan CEO Search Agency, di podcast DailySEO ID bersama Ilman Akbar dan Maulana. Rekap di bawah merangkum poin-poin utamanya.
SEO masih jadi anak tiri di budget marketing
Lihat brand besar di Indonesia. Spending terbesar mereka hampir tidak pernah mendarat di organic channel. Uangnya lari ke ads, dan kalaupun masuk ke organik, porsinya lebih banyak ke kolaborasi media. Buka saja website brand FMCG besar dan lihat apakah ada yang merawatnya.
Penyebabnya bukan performa SEO. Orang SEO gagal menunjukkan return on investment dari pekerjaan yang mereka jalankan. Perusahaan menggaji mereka, klien membayar mereka, tetapi kalimat "ini return yang Anda dapat" tidak pernah keluar. Bagi bisnis, itu masalah.
Banyak brand manager di perusahaan FMCG besar akhirnya memilih menjalankan iklan atau menggandeng KOL. Mereka pernah spending di SEO dan tidak melihat hasil yang menyentuh kebutuhan bisnisnya. Sebagian belajar dari situ, dan lebih banyak lagi yang berakhir antipati.
Akar masalahnya ada di kemauan
Mindset ini terbentuk puluhan tahun. SEO harus ranking di SERP, trafik organik harus naik, lalu orang berlomba posting screenshot Google Analytics. Usaha untuk mengerti sudut pandang bisnis terhadap SEO hampir tidak ada.
Ridho menyebut ini soal ketidakmauan, bukan ketidakmampuan. Orang SEO merasa nyaman dengan success metric yang dulu terlihat berhasil padahal fake. Begitu hal ini diangkat, responsnya sering defensif.
Efeknya terlihat di cara agency berjualan. Paket A dapat lima backlink, paket B dapat sepuluh, sekian konten, sekian keyword. Kalimat seperti "revenue Anda sekarang 5 miliar per tahun, tiga tahun lagi bisa jadi 15 miliar" tidak pernah muncul. Pola yang sama terlihat di proposal, yang isinya technical audit hasil export dari tool plus daftar 20 keyword teratas. Technical audit tetap penting, tetapi posisi Anda ada di sini sementara bisnis ada di sana.
Pertanyaan pembuka yang seharusnya diajukan
Tanyakan objektif bisnis klien, bukan keyword yang ingin mereka rankingkan.
Ridho memberi contoh dari klien global hospitality yang ia pegang. Pertanyaan pertamanya soal revenue tahun lalu dan target tahun ini. Dari sana ia turun ke pertanyaan berikutnya. Masalahnya ada di basket size atau di country specific penetration. Segmen mana yang sudah achieve dan mana yang under contribute. Jawaban-jawaban itu jadi bahan menyusun strategi, dan campaign yang berjalan tidak pernah lepas dari tujuan awal tadi.
Pendekatan ini tetap berlaku ketika revenue terjadi di luar website, misalnya di FMCG yang transaksinya ada di marketplace. Pertumbuhan bisnis punya banyak metrik. Awareness, penetration, dan engagement dengan target audience sama sahnya. Kuncinya menyampaikan posisi bisnis sekarang, aktivitas yang akan berjalan, dan kondisi yang ingin dicapai.
Goals Triangle, tempatkan ranking di posisinya
Ridho tidak pernah menempatkan ranking di puncak sebagai goals sebuah SEO campaign, karena jaraknya terlalu jauh dari pertumbuhan bisnis. Search volume dan keyword bergerak dari waktu ke waktu. Interest user berubah, dan intent di balik keyword yang sama ikut bergeser.
Ranking tetap penting. Tempatnya ada di bawah sebagai user indicator, penunjuk bahwa campaign berjalan baik. Setiap metrik punya posisinya sendiri.
Menjual kontrak berisi 10 atau 20 keyword setahun tanpa menjelaskan bisnisnya akan jadi apa hanya menyiapkan kekecewaan. Bisnis merasa sudah mengeluarkan uang dan pulang dengan tangan kosong.
Sisi bisnis juga punya pekerjaan rumah
Organisasi yang sudah mature biasanya sudah memetakan goals, target audience, dan channel. Saat mereka engage dengan agency atau merekrut orang SEO, mereka bisa langsung menyebut tujuannya dan ke mana SEO harus berkontribusi. Masalahnya, banyak bisnis salah menentukan goals. Sebagian datang dengan permintaan ranking untuk keyword tertentu, atau versi barunya, naik di jawaban ChatGPT untuk prompt tertentu. Permintaan menaikkan trafik saja pun sebenarnya belum jadi goals yang tepat. Beban edukasi ini timpang kalau ditumpuk seluruhnya ke praktisi, karena yang melihat gambaran penuh adalah keseluruhan organisasi, tetapi porsinya tetap ada di kedua sisi.
Yang harus dikerjakan SEO junior sekarang
Experience hari ini bisa diaugmentasi. Dulu keunggulan datang dari hidup di agency dan punya touch point dengan banyak industri. Sekarang jalurnya lebih terbuka.
- Bangun experience sendiri. Beli domain, bikin beberapa website di industri berbeda, jalankan campaign-nya. Dasar SEO itu technical, jadi kerjakan betul bagian kotornya. Alasan belum pernah pegang sesuatu sudah gugur ketika platform dan tool-nya tersedia.
- Lihat dari sisi bisnis. Berhenti melihat campaign hanya dari kacamata SEO. Pelajari produknya, target audience-nya, dan posisi bisnis itu sekarang. Kebiasaan ini yang memunculkan pertanyaan soal revenue, exposure, dan penetration. Seniority tidak jadi syarat.
- Cari real experience. Datangi bisnis sebagai karyawan atau konsultan dengan analisis yang sudah jadi. Akses internal tidak jadi syarat. Business analysis bisa Anda kerjakan dari luar, dan technical audit termasuk pemeriksaan rendering juga jalan tanpa akses backend.
Ridho menutup poin ini dengan catatan soal kebiasaan menunggu. Menunggu pekerjaan yang tepat, menunggu klien yang tepat, menunggu kesempatan di perusahaan tertentu. Sebagian besar dari itu bisa Anda kerjakan sendiri lebih dulu.
AI sedang menutup pintu untuk pekerjaan eksekusi
Bisnis sekarang membandingkan biaya merekrut SEO junior dengan biaya langganan AI. AI menyelesaikan technical audit sampai reporting. Dengan MCP yang tersambung ke Google Search Console dan Google Analytics, audit selesai dalam hitungan menit, dan bentuknya sudah berupa presentasi yang siap dibawa ke board.
Ridho menyatakan terus terang bahwa agency-nya sekarang berhenti merekrut orang SEO junior karena AI mengambil alih eksekusi. Istilahnya, the windows are closing. Hal yang sama terjadi di desain dan engineering.
Konsekuensinya, siapa pun yang masuk sekarang harus datang dengan level skill berbeda. Bawa strategic thinking, pemahaman kenapa sebuah pekerjaan dikerjakan, dan gambaran output yang seharusnya keluar. Kalimat seperti "meta title tidak boleh lebih dari 60 karakter" sudah kehilangan nilainya.
AI tetap butuh fundamental. Garbage in, garbage out. Output AI hanya bagus kalau orang yang mengerti bidangnya mengerjakannya, sama seperti desain dan coding. Tugas manusia bergeser ke validasi, dan untuk memvalidasi Anda harus mengerti lebih dulu. Standarnya naik.
Soal pengalaman, Ridho menolak menghitungnya dalam tahun. Di industri yang berubah secepat ini, pertanyaan yang lebih relevan adalah sejauh mana Anda mengerti cara kerja AI search landscape sekarang. Artinya yang junior pun punya kesempatan yang sama.
Gap bayaran mengikuti kondisi industrinya
Jarak bayaran talent SEO Indonesia dengan US, Eropa, bahkan Singapura sangat lebar. Ridho pernah mendapat klien Singapura yang memilihnya karena harganya murah. Di tahun kedua, klien itu memberi tahu bahwa agency sebelumnya dibayar tiga kali lipat dengan hasil yang lebih buruk.
Mengeluh tidak menutup gap itu. Selama industrinya belum siap membayar layak, mengekspor diri ke pasar luar tetap terbuka, dengan konsekuensi persaingan yang lebih besar. Begitu industrinya membaik, harga akan terbentuk sendiri.
Perilaku search sudah berubah, dan itu terjadi sekarang
Di traditional search, user mengetik head term pendek. "Sepatu murah" pernah jadi rajanya. Di AI search, satu kali interaksi sudah menunjukkan intent yang jauh lebih lengkap. User mengetik sepatu lari di bawah satu juta, tahan segala cuaca, enak untuk maraton, bisa COD.
Arah optimasi ikut bergeser. Jawab kebutuhan yang spesifik, dan lepaskan keyword bervolume besar yang luas. Trafik besar tanpa pembeli hanya jadi beban server.
StoryMint, produk terbaru Ridho, mengambil posisi di sini. StoryMint adalah audience first content marketing suite yang intinya ada di audience persona. Ridho membangunnya setelah melihat banyak tim membuat marketing persona, menjadikannya PDF, lalu menaruhnya di folder yang tidak pernah dibuka lagi. Di StoryMint, persona itu hidup di tiap tahap campaign, sehingga brief dan konten selalu punya grounding ke siapa yang dituju. Kategorinya berbeda dari Ahrefs atau Semrush dan sifatnya melengkapi.
Alur risetnya ikut dibalik. Mulai dari siapa audience-nya, apa pain point dan challenge mereka, lalu search query apa yang mereka pakai untuk itu.
User first, SEO will follow
Prinsip search tidak berubah, baik di search engine maupun AI search. Mesin menampilkan hasil yang relevan dengan yang ditanyakan user. Konten Anda relevan, nama Anda muncul.
Ingin tahu posisi brand Anda di jawaban AI hari ini? AI Visibility Audit gratis kami menguji query kategori Anda dan mengirimkan buktinya.


